5 Tips agar Rencana Kredit Apartemen Bisa Langsung Terealisasi

Header - 5 Tips agar Rencana Kredit untuk Beli Apartemen Bisa Langsung Terealisasi

Punya tempat tinggal sendiri menjadi impian bagi hampir semua orang. Jika tak bisa membeli secara tunai, beberapa orang pun memilih mengajukan kredit untuk beli apartemen idaman. Namun, kadang beli apartemen dengan kredit bank atau KPA malah rugi karena kamu tak tahu cara yang tepat.

Dengan strategi yang tepat kamu bisa menghemat biaya untuk kredit apartemen sekaligus memperbesar kemungkinan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) disetujui oleh pihak bank. Rencana miliki apartemen idaman pun tidak sekadar jadi impian. Berikut beberapa cara yang bisa kamu terapkan sebelum ajukan KPA agar tak lagi merasa rugi.

Infografis - 5 Tips agar Rencana Kredit untuk Beli Apartemen Bisa Langsung Terealisasi

Mau Beli Apartemen tapi Gak Punya Tunai Keras, Coba Pertimbangkan KPA…

Mau Beli Apartment tapi Gak Punya Tunai Keras, Pertimbangkan KPA

Isu kemacetan di kota besar macam Jakarta memang bukan hal baru ya, guys! Semua cara dilakukan pemerintah untuk mengatasi kemacetan mulai dari membenahi sarana transportasi hingga membangun apartment.

Nah, apartemen saat ini memang tengah naik daun.

Alasan Memilih Apartment sebagai Hunian

Tinggal di apartemen bagi sebagian orang sudah menjadi gaya hidup di kota besar. Penunjang prestise! Selain itu, tinggal di apartemen dinilai lebih efisien karena lebih dekat dengan tempat kerja. Ujung-ujungnya jadi hemat biaya, waktu dan tenaga dong ya!

(Baca juga: Investasi Apartemen, Cara Mudah Raup Untung sekaligus Mendulang Rezeki)

Fasilitas yang lengkap juga jadi alasan kuat lain kenapa apartemen menjadi hunian idaman. Luas unit apartemen yang terbatas bikin penghuninya gak terlalu repot membersihkan ruangan. Sistem keamanan 24 jam dari CCTV yang diterapkan apartemen, bikin penghuni merasa lebih aman dan terjaga.

Syarat Mengajukan KPA (Kredit Pemilikan Apartemen)

Namu, saat ini memiliki apartment itu bukan lagi sebuah kemewahan. Berbagai apartment dengan harga bervariasi telah disediakan untuk bermacam kalangan.

Mulai dari yang murah sampai yang harganya lumayan selangit sudah tersedia untuk saat ini. Tapi apa iya semua orang mau membeli properti modern tersebut secara tunai keras? Realitanya kebanyakan dari kita lebih memilih membeli apartemen dengan sistem kredit.

Di zaman yang serba kredit ini, bukan gak mungkin memiliki apartemen dengan sistem kredit. Bagi yang serius berencana memiliki apartemen bisa mulai mempertimbangkan fasilitas KPA dari bank. Tapi ingat, gak semua bank menyediakan fasilitas ini ya!

(Baca juga: Kiat Sukses Memiliki Apartemen di Usia 20-an, Tanpa Mengandalkan KPA dari Bank)

Ada prosedur permohonan KPA yang berlaku ya pastinya. Persyaratan yang dibutuhkan bank dalam tahap pengajuan KPA secara formal, antara lain:

  • Fotokopi KTP suami/istri lengkap dengan pas foto 3 × 4 cm
  • Fotokopi Kartu Keluarga dan Surat Nikah
  • Fotokopi NPWP
  • Surat keterangan kerja asli untuk karyawan dan SIUP untuk pengusaha
  • Fotokopi buku tabungan/rekening koran 3 bulan terakhir
  • Melampirkan laporan keuangan usaha untuk pengusaha
  • Melampirkan slip gaji asli, lengkap dengan stempel perusahaan

Apakah dokumen-dokumen di atas sudah cukup? Ada hal-hal lain yang harus diketahui nih oleh calon nasabah agar pengajuan KPA-nya mulus:

  • Usahakan untuk gak masuk dalam blacklist Bank Indonesia
  • Menjaga performa kredit
  • Akan lebih baik kalau nasabah memiliki rekening aktif di bank yang menawarkan fasilitas KPA
  • Target nasabah bagi pihak bank adalah yang masih dalam usia produktif
  • Penghasilan yang mengalami peningkatan secara konsisten juga menjadi perhatian bank
  • Jadilah calon debitur yang kooperatif

Apartemen sebagai Investasi

Iming-iming keuntungan yang menggiurkan, membuat apartemen juga semakin dilirik sebagai investasi, lho!

(Baca juga: Mana Lebih Untung: Investasi Apartemen atau Rumah Tapak?)

Pastinya untuk tujuan yang satu ini, banyak hal yang harus diperhatikan untuk meminimalisir potensi merugi.

  • Pilih apartemen yang memiliki nilai capital gain
  • Perhatikan lokasi, gak hanya harus strategis namun juga memiliki pasar sewa
  • Mengincar apartemen yang baru akan dibangun dengan timing harga terbaik
  • Pastikan lokasi apartemen dekat dengan pusat pelayanan publik dan kebutuhan lainnya
  • Apartemen dengan banyak fasilitas bisa menjadi daya tarik
  • Periksa status tanah di mana apartemen dibangun, jangan sampai terlibat kasus sengketa

Memang berapa sih kira-kira keuntungan yang bisa didapat dengan menyewakan apartemen? Kalikan saja nilai beli dengan nilai yield. Yield itu sendiri merupakan keuntungan yang diperoleh dari nilai sewa per tahun dibandingkan dengan harga properti.

Setiap properti memiliki nilai yield yang berbeda, untuk apartemen nilai yield berkisar mulai dari 7–10 persen. Semisal, membeli apartemen dengan harga Rp 700 juta di Bintaro Pavilion, kawasan selatan Jakarta, sewa apartemen didapat dari rumusan nilai beli x nilai yield sebesar 9 persen.

Jadi, kira-kira begini hasilnya = Rp 700 juta x 9 persen = Rp 63 juta per tahun atau kira-kira Rp 5–6 juta per bulan.

So, gimana nih? Masih tertarik mengajukan permohonan KPA? Kalau masih memiliki tekad segunung untuk memiliki apartemen dengan sistem KPA, harus ikutin aturannya ya! Kumpulin informasi sebanyak-banyaknya deh!

Pilih bank secara tepat yang bisa membantu kamu memiliki apartemen yang sesuai dengan keinginanmu. Itulah kenapa kamu harus benar-benar paham apartemen seperti apa yang kamu butuhkan dan untuk tujuan apa.

5 Hal yang Bisa Bikin Rencanamu untuk Kredit Properti Jadi Gagal Total

5 Hal yang Bisa Bikin Rencanamu untuk Kredit Properti Jadi Gagal Total

Bicara soal rencana beli hunian dengan kredit properti yang gagal, pastinya nyesek dong. Impian punya hunian idaman pupus dengan suksesnya.

Apalagi jika kesalahan terletak pada diri kita sendiri. Nangis guling-guling juga gak bakal menyelesaikan persoalan. Apalagi kalau sampai meneror petugas bank yang mengurus kreditnya, malah masuk penjara nanti.

Begini. Urusan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) itu gak bisa dianggap remeh. Meski aturannya ya begitu-begitu saja dari tahun ke tahun, bukan alasan bagi kita untuk ongkang-ongkang kaki saat menyelesaikan prosedur ini.

Meski Urbaners sudah siapkan uang panjar sampai 50 persen, bukan jaminan permohonan kreditmu dikabulkan. Uang muka itu hanyalah salah satu syarat dalam mengurus KPR atau KPA. Ada sedikitnya 5 hal yang bisa bikin rencana kredit propertimu gagal total. Simak penjelasannya di bawah ini.

Tunggakan Utang sebelum Mengajukan Kredit Properti

Kartu kredit memang memberikan fasilitas yang oke punya. Tapi, kewajiban yang menyertainya kudu dilaksanakan juga. Kalau masih ada tunggakan tagihan kartu kredit, proses KPR atau KPA pasti tersendat.

Bank akan berpikir begini, “Lha, ini tunggakan saja belum dilunasi. Kok, sudah mau ngutang lagi?” Jangan-jangan nanti nunggak juga!

(Baca juga: 5 Strategi Bebas Utang Saat Kredit Apartemen)

Eh, kok bank bisa tahu kita ada tunggakan? Ya, pengecekan utang memang menjadi salah satu prosedur dalam KPR. “BI checking” namanya.

Jika kita masih punya masalah kredit, kecil kemungkinannya permohonan kredit lainnya akan disetujui. Ini berlaku untuk semua jenis utang, ya, khususnya di bank.

Kendaraan Belum Lunas

Ini mirip dengan proses “BI checking” di atas. Singkatnya, bank akan pikir-pikir ngasih utangan kalau kita sendiri masih punya beban cicilan.

Jadi, sebaiknya pastikan semua cicilan sudah lunas, terutama kendaraan. Dengan begitu, bank akan melihat Urbaners bebas dari beban utang dan sanggup melunasi utang KPR atau KPA tepat waktu.

Masa Kerja Singkat

Memang, umumnya bank mensyaratkan pegawai tetap untuk bisa mendapatkan KPR atau KPA. Tapi, ada satu hal krusial yang sering diperhitungkan bank, yaitu masa kerja.

Umumnya seorang pegawai mendapat status tetap setelah bekerja dua tahun. Namun status itu bukan jaminan proposal KPR atau KPA akan melaju mulus.

(Baca juga: Mau Ajukan Kredit untuk Beli Properti Kedua? Ini Tipsnya…)

Lebih dari itu, bank akan melihat sudah berapa lama sih kita bekerja. Tujuannya, memastikan kita sudah mantap bekerja di tempat itu.

Tapi KPR atau KPA tetap bisa diakses pekerja freelance ataupun kontrak, lho. Hanya, prosesnya akan lebih panjang dan perlu negosiasi dengan pihak bank.

Hunian di Daerah “Gak Laku”

Saat mengajukan kredit, artinya kita akan memohon pinjaman dengan jaminan. Jaminannya apa? Ya rumah atau apartemen yang mau kita beli. Jadi, bank akan mempertimbangkan nilai jual properti tersebut. Kalau dinilai marketable alias gampang dipasarkan, oke-oke saja.

Tapi jika area hunian dinilai suram, bye! Itulah makanya kita harus lihat-lihat kalau mau beli rumah atau apartemen. Hunian yang jalannya sempit dan gak bisa dilalui mobil umumnya gak akan masuk kriteria KPR atau KPA bank mana pun.

Dusta

Ketika proposal KPR atau KPA diproses, salah satu tahap yang kita tempuh adalah wawancara. Dalam proses ini, kita mesti menjawab semua pertanyaan dari petugas bank sejujur-jujurnya.

Begitu juga ketika kita memberikan dokumen. Slip gaji mesti asli, bukan rekaan. Begitu juga dokumen kependudukan. Sebab, jika ketahuan berdusta, permohonan KPR atau KPA kita akan masuk tempat sampah.

Proses KPR sesungguhnya sederhana, kalau kita ikuti prosedurnya. Gak usahlah neko-neko “main belakang” atau pakai calo. Selain bisa membuat biaya KPR membengkak, bisa saja di tengah jalan kita malah kena tipu.

Bukan mustahil si calo atau makelar itu ternyata petugas abal-abal, atau petugas asli tapi terus lari bawa uang Urbaners.

(Baca juga: Urbaners Mau Beli Apartemen Lewat Makelar? Ajukan Dulu Pertanyaan Ini!)

Sebaiknya kita cermat ketika mengurus kredit properti. Kalau tidak, jangan harap impian punya rumah atau apartemen sendiri bakal segera terwujud.

Investasi Apartemen, Cara Mudah Raup Untung sekaligus Mendulang Rezeki

Investasi Apartemen, Cara Mudah Raup Untung sekaligus Mendulang Rezeki

Investasi apartemen sudah bukan lagi menjadi kata yang menyeramkan. Dari pelajar sampai mereka yang sudah pensiun, berinvestasi di sektor ini terbukti mudah untuk dijalankan.

Namun sering niat berinvestasi ini tertunda karena memikirkan sumber dananya. Apalagi mereka yang masih berstatus pegawai junior.

Terlebih lagi yang namanya investasi apartemen ini baru bisa dinikmati dalam waktu panjang. Di sisi lain, kalau sekedar mengandalkan tabungan dan deposito sebagai instrumen investasi rasanya kok kurang pas ya.

Kenapa Harus Investasi Apartemen?

Padahal, semua orang tahu ya kalau harga properti setiap tahun selalu naik pesat. So, gak usah takut kalau memilih investasi properti. Semisal, dengan membeli apartemen semasa pre-launch yang masih seharga di bawah Rp 500 juta.

Nantinya, sewa atau kontrakan saja ke keluarga muda yang punya dana terbatas. Kisaran harga sewanya sekitar 3-7 persen dari harganya saja. Tapi, tergantung lokasi. Apartemen dengan isinya bisa lebih mahal lagi.

(Baca juga: Beli Apartemen atau Rumah Tapak di Usia 30-an? Ini Pertimbangannya…)

Keuntungan yang bisa diraih cukup menggiurkan, lho! Sekitar 10-20 persen. Bahkan, harga bisa lebih meroket jika ternyata di lokasi sedang ada pembangunan infrastruktur lain.

Jangan khawatir soal dana, kan sekarang ada kredit pemilikan apartemen atau KPA. Tapi ingat, harus diperhitungkan dengan matang supaya gak terbelit utang.

Hanya saja, keuntungan dari investasi properti dalam hal ini apartemen dipengaruhi banyak faktor. Misalnya saja lokasi, bangunan, tata letak dalam ruangan, sampai pemandangan.

Faktor-faktor yang disebutkan itulah yang menjadi pertimbangan sebelum mengambil keputusan membeli apartemen.  Nah, biar enggak meleset menanamkan duit untuk investasi apartemen, ada baiknya perhatikan kiat-kiat berikut ini.

Timing Investasi Apartemen

Sudah jadi kelaziman kalau penjualan apartemen itu dibagi dalam beberapa sesi. Misalnya sebelum launching atau pre-launch, pas hari H launching, dan saat apartemen selesai. Dari tiga sesi itu, biasanya harga pre-launch lebih murah dan memungkinkan memilih unit terlebih dulu.

(Baca juga: 5 Cara Murah Meriah Dekorasi Hunian Idaman)

Di sinilah pentingnya mencari informasi dari developer tentang rencana pembangunan apartemen.

Pemilihan Pemandangan

Seperti disebutkan sebelumnya, pemandangan apartemen turut menjadi faktor pendongkrak harga. Itulah penting memilih unit yang tepat dengan view yang bagus. Misalnya saja unit yang memiliki view gedung perkotaan, pantai, atau hutan kota. View ini menentukan harga dari apartemen.

Lokasi

Ketika tujuannya untuk investasi, tentunya mencari lokasi apartemen yang strategis dengan infrastruktur yang sedang dibangun.

Setidaknya, bisa dijangkau dengan segala moda transportasi. Syukur-syukur bisa dicapai dengan jalan kaki sehingga tak perlu naik motor atau mobil yang malah jadi biaya transportasi tambahan.

(Baca juga: Mau Punya Mobil dan Apartemen Sendiri dalam 5 Tahun? Ikuti Tips Ini!)

Dekatnya apartemen dengan lokasi kantor dan sekolah atau kampus bisa menentukan juga nilai investasinya. Toh, selama kita gak menempati, apartemen itu bisa disewakan kepada orang lain yang kebetulan kerja atau sekolah di sekitar apartemen.

Fasilitas

Fasilitas juga menjadi poin yang penting dalam pemilihan apartemen. Cek dengan seksama fasilitas apa saja yang tersedia misalnya keamanan, parkir, olahraga, maupun pertokoan.

Pilihlah fasilitas yang menunjang hidup penghuninya agar tak mengalami kesulitan ketika kita memilih untuk menempatinya juga.

Beli Hunian Baru atau Bekas? Pertimbangkan Dulu Hal-hal Berikut Ini!

Beli Hunian Baru atau Bekas? Pertimbangkan Dulu Hal-hal Berikut Ini!

Kata orang, beli hunian baru atau bekas itu kayak cari jodoh. Kadang dari desain dan lokasi sudah oke, tapi terbentur sama harganya yang gak selevel sama saldo rekening.

Di lain pihak, harga oke ditambah desain dan bangunannya yang juga oke, pas dicek posisinya ada di bawah permukaan laut alias selalu jadi korban banjir.

Sudah kebayang kan kalau beli hunian itu jauh dari simpel. Ada begitu banyak faktor yang memengaruhi keputusan beli hunian baru atau bekas. Tiap-tiap orang, jumlah faktornya beda-beda. Ada yang mementingkan faktor harga, ada yang prioritaskan lokasi atau desainnya.

Apapun itu faktor itu, sebenarnya yang utama itu adalah mempertimbangkan faktor mau pilih seken atau baru. Biar gak terus-terusan jadi pengunjung tetap pameran properti, ada baiknya ukur untung ruginya antara beli hunian seken sama baru yuk.

Jadi, Beli Hunian Baru atau Bekas? Ini Penjelasannya…

Beli Hunian Seken

Simpelnya, nilai plus rumah seken kira-kira seperti dijelaskan di bawah ini.

  1. Dari segi harga, rata-rata lebih miring. Sebenarnya sih untung-untungan. Walaupun begitu, dari berbagai kesaksian bilang untuk luas bangunan dan tanah yang hampir sama, hunian seken harganya lebih murah.
    Enaknya lagi, harga bisa ditawar lagi dengan si pemilik sampai ada kesepakatan. Tanya juga bisa pakai Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) gak?
  2. Kemungkinan sudah dilengkapi sertifikat. Jadi gak perlu susah payah lagi mengurusnya.
  3. Fasilitas yang tersedia sudah lengkap. Misalnya saja sudah ada listrik, air, telepon dan lain sebagainya. Jadi bisa langsung ditinggali.
  4. Lingkungannya sudah terbentuk. Maksudnya, sudah ada tetangga sehingga gak merasa khawatir merasa kesepian.

(Baca juga: Lagi Berburu Hunian? Catat 5 Jurus Ini Agar Biaya Pencarianmu Tetap Efisien)

Terus, berikut ini minusnya.

  1. Kadang desain bangunan tak sesuai selera. Ya wajar, karena belum tentu selera pemilik lamanya sesuai dengan diri sendiri.
  2. Terus mesti mengkalkulasi perbaikan jika ada kerusakan di sana-sini. Ini mesti dicermati dengan seksama karena mempengaruhi anggaran perbaikan. Jangan sampai niat irit beli hunian seken tapi jatuhnya malah lebih malah daripada baru.
  3. Kualitas bangunan kadang di bawah standar. Misalnya saja di atap, kusen atau pun lantai.
  4. Survei dengan seksama untuk mencari informasi seputar riwayat hunian itu. Apakah sering kena banjir, ada cerita-cerita horor terkait itu rumah, apakah banyak preman dan lain sebagainya.
  5. Bisa jadi ada kasus hunian itu masuk sengketa dan tak jelas asal usulnya. Misalnya sengketa harta gono-gini, harta warisan, harta sitaan dan lain sebagainya.
  6. Cari hunian seken yang dijual gak gampang. Mesti serius hunting. Bisa intip iklan di koran atau browsing di situs-situs jual-beli rumah, apartemen atau langsung ke website resmi si developer-nya seperti megakarya.id. Bisa juga minta bantuan jasa agen properti, tapi ini butuh dana ekstra lagi.

Lalu kepikiran beli hunian baru setelah pertimbangkan untung ruginya? Lha, sama saja dong. Beli hunian baru juga ada plus minusnya. Apa tuh? Terusin bacanya, yak!

Kelebihan Hunian Baru

  1. Desainnya dong yang up-to-date. Misalnya sekarang lagi ramai model minimalis dan cluster. Jadinya, hunian terasa lebih luas karena gak pakai pagar.
  2. Bebas pilih model yang sesuai selera.
  3. Fasilitas terbilang lengkap. Rata-rata developer (terutama apartemen) sudah menyediakan fasilitas sosial dan umum untuk kenyamanan penghuni.
  4. Ada iming-iming garansi dari developer. Jadi kalau ada genteng bocor, eternit retak, tembok pecah, tinggal lapor dan klaim. Itu menjadi tanggung jawab developer untuk memperbaikinya.
  5. Opsi belinya bisa pakai KPR atau KPA. Bahkan, tak jarang ada developer yang memberi keringanan uang muka dicicil.

(Baca juga: Cara Kumpulkan Uang Muka Hunian Rp 200 Jutaan untuk Orang Kantoran)

Kelemahan Hunian Baru

  1. Harga relatif mahal. Pasalnya, developer sudah susah payah buat bikin kualitas bangunannya jadi nomor satu, fasilitasnya lengkap dan kemudahan lainnya.
  2. Tak bisa langsung ditempati. Lha, hunian yang ditawari developer kan baru maketnya saja alias belum dibangun.
  3. Kadang ada kebijakan developer melarang penghuni mengubah bentuk hunian. Pendek kata, mesti terima apa yang sudah dibangun. Kalau pun bisa diubah, bakal kena biaya.
  4. Fasilitas air, telepon dan listrik kadang belum siap. Maka itu, tanyakan kepada developer soal ini biar jelas.
  5. Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) dan tanah kadang belum dipecah-pecah, khusus untuk hunian model cluster. Penting untuk bikin memo ke developer kapan sertifikat itu diserahkan begitu akad kredit beres atau hunian itu dilunasi.

Kesimpulannya, ya itulah seni membeli hunian. Setuju kan kalau akhirnya beli hunian itu jodoh-jodohan. Butuh waktu dan jalan panjang untuk dapatkan hunian sesuai selera dan tentunya sesuai isi kantong. Tinggal bagaimana niat dan usaha saja.

(Baca juga: Berani Cicil Hunian di Usia 20-an, Kenapa Gak? Asal Bisa Disiplin Lakuin Hal-hal di Bawah Ini)

Cuma yang penting, punya hunian itu suatu kebanggaan tersendiri. Selain berfungsi sebagai tempat berteduh bagi seluruh keluarga, toh hunian juga masuk dalam golongan investasi yang bakal moncer di masa yang akan datang.

5 Cara Atur Uang buat Pasangan yang Baru Menikah, biar Bisa Punya Tempat Tinggal Sendiri!

5 Cara Atur Uang buat Pasangan yang Baru Menikah, biar Bisa Punya Tempat Tinggal Sendiri!

Buat Urbaners yang lagi menyusun rencana segera menikah, jangan sampai hanya terfokus pada resepsi. Ada satu hal penting lainnya yang juga mesti dipikirkan: punya tempat tinggal sendiri.

Pasangan yang baru menikah bisa beli rumah atau apartemen sendiri, itu menjadi idaman setiap orang. Sebab masih ada pandangan bahwa kurang etis bila masih tinggal bersama orang tua ketika sudah menikah.

Apalagi jika dibanding-bandingkan, lebih baik beli properti ketimbang beli kendaraan. Sebab, properti termasuk sarana investasi.

Harga properti pada umumnya meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi jika lokasinya strategis. Peningkatannya bisa berlipat-lipat. Ini berbeda dengan motor dan mobil, yang harganya malah kian merosot. Soalnya, motor atau mobil terkena depresiasi alias penurunan harga tiap tahun.

Nah, berikut ini ada lima cara pasangan yang baru menikah bisa beli properti sendiri, mungkin dapat dijadikan referensi.

Tekan Biaya Menikah dari Sisi Resepsi

Banyak yang lebih mementingkan resepsi ketimbang hunian ke depannya. Duit digelontorkan buat bikin pesta megah. Seusai resepsi, mengeluh karena dana habis.

(Baca juga: 6 Trik Mempersiapkan Tabungan untuk Kamu yang Bergaji Rp 3 Jutaan, Biar Siap Menikahi Pacar Tahun Depan)

Lebih baik resepsi digelar sederhana saja. Asalkan, acara itu berkesan bagi tiap orang. Sisa dana bisa dipakai buat tambahan beli rumah atau apartemen sendiri.

Atur Pengeluaran

Saat sudah menikah, atur pengeluaran berdua. Baik suami maupun istri mesti saling terbuka dalam urusan keuangan. Apakah ada utang, hartanya berapa.

Ini penting untuk menyusun anggaran ke depan. Setelah ada anggaran, patuhi. Percuma bikin anggaran canggih-canggih tapi diabaikan.

Berinvestasi

Menabung sudah jelas mesti dilakukan. Tapi ada yang lebih menjanjikan, yaitu berinvestasi. Imbal hasil investasi lebih besar ketimbang bunga tabungan.

(Baca juga: Cara Mudah untuk Memulai Investasi Properti dengan Gaji Pas-pasan)

Tapi harus paham dulu jenis investasi yang akan dilakoni. Mungkin bisa investasi emas yang simpel. Kalau ingin mencoba meraih hasil lebih, bisa mulai pelajari reksa dana dari sekarang.

Bikin Rekening Khusus

Jika memungkinkan, bikinlah rekening tabungan khusus untuk mengumpulkan modal beli properti. Nantinya dana dari gaji tiap bulan disisihkan ke rekening ini.

Isi rekening gak boleh diutak-atik, kecuali untuk beli rumah atau apartemen. Harus ditetapkan target tabungan untuk belinya.

Misalnya, Urbaners membidik apartemen seharga Rp 400 juta. Dengan aturan down payment 20% dari harga total, diperlukan Rp 80 juta sebagai DP kredit pemilikan apartemen.

Cari Bank yang Memberikan Bunga KPR atau KPA Rendah

Jangan lengah dan malas untuk survei bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) ke tiap bank. Jenis kredit ini bisa membantumu untuk mendapatkan hunian impian. Namun, jika Urbaners tak selektif memilih bank maka justru akan terjebak dengan bunga yang mencekik.

(Baca juga: Bunga Kredit Properti Terlalu Tinggi? Ini Waktu yang Tepat buat “Refinancing”!)

Makin tinggi bunganya maka dana yang harus dianggarkan untuk membeli hunian juga makin membengkak. Maka dari itu, Urbaners harus selektif dan jangan malu untuk mencari KPR atau KPA dengan bunga terendah.

Berani Cicil Hunian di Usia 20-an, Kenapa Gak? Asal Bisa Disiplin Lakuin Hal-hal di Bawah Ini

Berani Cicil Hunian di Usia 20-an, Kenapa Gak? Asal Bisa Disiplin Lakuin Hal-hal di Bawah Ini

Menyicil hunian idaman sekarang sejatinya sebuah tantangan. Sesuai banget, kan! Anak muda selalu akrab sama dunia tantangan. Sekarang tinggal bikin strategi supaya niatan itu terlaksana.

Syaratnya, Urbaners perlu manfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPA). Ini paling rasional karena gak perlu menyiapkan gepokan duit ratusan juta dulu. Cukup penuhi saja syarat besaran uang muka yang nilainya 20 sampai 30 persen dari harga properti incaranmu.

Target awal adalah kumpulkan duit buat down payment alias DP atau uang muka. Sisihkan duit bulanan buat kebutuhan ini dalam kurun waktu tertentu. Setelah itu kalkulasi juga besaran angsuran yang sanggup. Lebih bijak jika besaran angsuran gak lebih 30 persen dari total gaji.

Berikutnya, enggak usah muluk-muluk menentukan hunian idaman. Cukup cari hunian yang harganya terjangkau isi kantong. Misalnya saja apartemen di pinggiran kota yang banderolnya masih di bawah Rp 300 juta.

Gak usah minder dulu ambil hunian yang ‘rada pelosok.’ Lihat ke masa depan. Kawasan itu bakal berkembang dan dengan sendirinya harganya ikutan naik. Terus sekarang pikirkan siasat yang jitu agar mimpi punya hunian idaman di usia 20-an terlaksana. Sekarang bisa dicoba siasat di bawah ini.

Tinggal Dulu di Rumah Orangtua

Daripada indekost atau mengontrak rumah lagi yang pakai biaya, kenapa gak sementara dulu tinggal di rumah ortu? Tinggal di rumah ortu pasti menghapus biaya indekost atau kontrak.

(Baca juga: Ini Cara Seru Habiskan “Long Weekend” di Rumah)

Bayangkan kalau bulanan kos atau kontrak itu Rp 1 juta. Setahun, berasa banget keluarin duit Rp 12 juta.

Bertekad Sisihkan 30 Persen dari Gaji

Menyisihkan duit dari gaji buat ditabung atau diinvestasikan pertanda sudah ada action. Urbaners sudah benar-benar on the track buat punya hunian sendiri. Misalnya saja gaji Rp 5 juta, sisihkan deh Rp 1,5 juta per bulan buat tujuan ini.

Tinggal pilih instrumen yang pas agar duit yang disisihkan itu tetap terjaga nilainya. Bisa dengan emas atau reksa dana yang lebih agresif ketimbang deposito atau tabungan.

Tapi alangkah baiknya pelajari dulu semua instrumen. Cuma intinya sih, pilihlah yang relevan dengan tujuan keuangan yang dalam hal ini mengejar DP agar terkumpul.

(Baca juga: Cara Kumpulkan DP Hunian Rp 200 Jutaan untuk Orang Kantoran)

Kemampuan menyisihkan pendapatan ini pasti terkait dengan skill pengelolaan keuangan. Jadi, jangan abai sama yang ini yak!

Biasakan Irit dan Hemat

Hemat duit identik banget sama pepatah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian! Yakinkan sama diri sendiri, hidup hemat itu bukan penderitaan. Hanya kesenangan yang tertunda.

Pengetatan pengeluaran bakal terbayar manis dengan hunian impian yang hendak dimiliki. Lagian waktu itu berjalan cepat kok. Tak terasa sudah setahun, dua tahun, eh tiba-tiba sudah lunas!

Kalau ingin lebih leluasa dalam mengatur duit, bisa aja pilih tenor kredit sampai 20 tahun. Sudah pasti cicilannya lebih ringan. Toh, usia ketika kredit itu lunas masih di kisaran 40 tahun.

Sekarang tinggal hitung aja mana yang sesuai dengan kapasitas keuangan. Kalau ada duit lebih, bisa saja gunakan opsi pelunasan dipercepat. Hanya ketahui juga ya akibat yang timbul kalau KPR atau KPA dilunasi sebelum jatuh tempo.

Opsi lainnya, take over kredit saja. Bisa jadi cara ini bisa mendapatkan harga lebih miring.

(Baca juga: 6 Langkah yang Perlu Diperhatikan dalam Membeli Properti “Over” Kredit)

Kenapa? Biasanya harganya lebih murah karena dijual dengan harga tahun lalu sebelum naik.

Bunga Kredit Properti Terlalu Tinggi? Ini Waktu yang Tepat buat “Refinancing”!

Bunga Kredit Properti Terlalu Tinggi? Ini Waktunya buat "Refinancing"!

Buat kamu yang punya kredit pemilikan rumah (KPR) atau kredit pemilikan apartemen (KPA), apakah pernah mempertimbangkan refinancing KPR atau KPA?

Meski masih asing di telinga sebagian orang, refinancing KPR atau KPA merupakan produk perbankan yang banyak dimanfaatkan orang. Refinancing ini bisa juga disebut sebagai sistem penilaian ulang hunian yang telah dibeli dengan menggunakan sistem kredit.

Penilaian ulang ini bisa dilakukan bank tempat memiliki fasilitas KPR dan KPA atau bisa juga di bank lainnya. Pada dasarnya refinancing merupakan sebuah pengajuan kembali kredit kepada pihak kreditor dengan jaminan barang yang sudah dimiliki.

Jika Bunga KPR atau KPA Terlalu Tinggi

Salah satu alasan utama melakukan refinancing adalah suku bunga KPR atau KPA kamu yang terlalu tinggi dan memberatkan keuangan.

Padahal, bunga yang tersedia saat ini lebih rendah. Dengan melakukan refinancing, kamu bisa menurunkan bunga sehingga cicilan yang disetorkan tiap bulan pun turun.

Contohnya seperti ini, kamu memiliki KPR atau KPA senilai Rp 600 juta dengan tenor 10 tahun alias 120 bulan dan bunga 10 persen.

Dengan skema itu, saat ini kamu memiliki kewajiban cicilan senilai Rp 4.950.000. Dengan melakukan refinancing, bunga mencapai 9 persen sehingga kewajiban cicilan kreditmu turun menjadi Rp 4.545.000.

Perlu diketahui, jika sebelumnya kamu belum pernah mengajukan refinancing, kamu bisa terkejut mengetahui berapa rupiah yang bisa di hemat.

(Baca juga: Tips Hemat “Traveling” untuk Pasangan Muda)

Coba saja hitung, dengan menghemat Rp 405.000 selama 5 tahun atau 60 bulan, kamu sudah menyimpan uang senilai Rp 24.300.000.

Namun, perlu diingat, refinancing hanya terasa manfaatnya bila kamu sudah lama mengajukan KPR atau KPA dan berencana tinggal di hunian itu dalam waktu lama.

Saat Kamu Butuh Uang atau Terlilit Utang

Jika Urbaners berencana melakukan pembelian bernilai besar seperti mobil baru atau justru sedang terlilit utang bunga tinggi, refinancing kredit propertimu adalah pilihan yang lebih baik. Dengan refinancing kamu bisa mendapatkan dana tunai yang lebih murah.

(Baca juga: Jadi Karyawan sambil Wirausaha, Ini 6 Cara Dapatkan Dana Tambahan untuk Bisnis Sampinganmu)

Dana tersebut berasal dari penilaian ulang rumah atau apartemenmu yang dilakukan bank. Misalnya, dua tahun lalu kamu membeli properti seharga Rp 400 juta maka bisa jadi hunian itu sekarang bernilai lebih dari Rp 500 juta.

Maka kamu bisa memperoleh pinjaman Rp 100 juta yang bunganya akan jauh lebih murah dari pinjaman biasa.

Kamu Mengalami Kesulitan Keuangan

Saat ini Urbaners sedang mengalami kesulitan keuangan akibat penghasilan yang berkurang. Akibatnya, kamu kesulitan untuk membayar angsuran KPR atau KPA. Jika demikian, maka kamu bisa mempertimbangkan refinancing.

Pada dasarnya, KPR atau KPA yang di-refinanced artinya memperbarui kredit lama kita sehingga masa angsuran pun akan di mulai dari bulan pertama lagi.

(Baca juga: Dengan 5 Tips KPA Ini, Punya Apartemen di Usia Muda Bukan Lagi Mimpi!)

Selain itu, kamu juga bisa menyesuaikan besarnya angsuran per bulan sehingga banyaknya jumlah uang yang perlu disetorkan bisa disesuaikan dengan penghasilan yang berkurang.

 

Beli Rumah atau Apartemen di Usia 30-an? Ini Pertimbangannya…

Masyarakat di kota-kota besar kini memiliki pilihan apakah ingin tinggal di rumah atau apartemen. Namun, jika sedang membeli hunian di usian 30-an, kamu sebaiknya berpikir lebih dalam apakah harus membeli rumah atau apartemen.

Memiliki sebuah hunian adalah impian bagi semua orang, sebab rumah menjadi salah satu kebutuhan primer. Saat ini varian hunian sudah merajalela, mulai dari apartemen, rumah tapak hingga rusun yang dapat dipilih berdasarkan kemampuan finansial dan kebutuhan dari masing-masing penghuni.

Berbicara mengenai hunian, properti bisa dijadikan sebagai salah satu investasi jangka panjang. Sebab setiap tahunnya harga dari hunian atau properti akan semakin meningkat harga jualnya. Untuk Urbaners yang sedang mengalami kegusaran dalam menentukan hunian, ada baiknya kamu menyimak artikel berikut ini sebagai bahan pertimbangan dalam membeli rumah atau apartemen di usia 30-an.

Hak Milik

Hak Milik - Beli Rumah atau Apartemen di Usia 30-an? Ini Pertimbangannya...
FOTO: nydailynews.com

Ketika membeli rumah tradisional, apa yang benar-benar dimiliki adalah rumah itu sendiri. Dalam kebanyakan kasus, kita juga memiliki tanahnya.

Sementara untuk hunian vertikal atau apartemen, Urbaners hanya memiliki ruangan di dalamnya. Paling tidak, kamu juga bisa menikmati fasilitas yang disediakan untuk digunakan secara bersama-sama dengan penghuni lain.

(Baca juga: Beda Biaya Rutin Penghuni Apartemen dan Rumah Tapak)

Namun dengan memiliki hunian vertikal, kamu tidak serta merta memiliki juga tanah pada properti tersebut. Nah, ini bisa jadi faktor penentu yang dominan bagi kamu yang sudah berusia 30-an.

Apakah kamu sudah memiliki pekerjaan yang relatif tetap sehingga tidak perlu berpindah-pindah hunian lagi?

Atau mungkin, kamu masih dalam tahapan pengembangan karir yang mewajibkanmu untuk dinas-dinas ke luar kota atau luar negeri yang mengharuskanmu untuk meninggalkan hunianmu dalam jangka waktu tertentu?

Pasalnya, ketika memiliki tanah, maka kewajibanmu dalam membayar iuran ini-itu dan pemeliharannya pun akan meningkat.

Pemeliharaan

Pemeliharaan - Beli Rumah atau Apartemen di Usia 30-an? Ini Pertimbangannya...
FOTO: shutterstock.com

Tinggal di rumah tradisional, berarti kamu bertanggung jawab untuk semua perawatannya. Jika ada pekerjaan yang perlu dilakukan, kamu harus membeli alat atau menyewa jasa orang lain untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Sementara di hunian vertikal, pada sebagian besar kasus, pengelola yang bertanggung jawab untuk pemeliharaan ruang hidupmu. Hal ini sangat meringankan sebagian tanggung jawab kita, terutama bagi kamu yang sedang mencapai puncak masa produktivitasnya dalam bekerja di usia 30-an.

(Baca juga: 8 Cara Bijak Kelola Gaji Bulanan Agar Rasa Lelahmu Bekerja Gak Ludes Tanpa Makna)

Selain itu, kita hanya tinggal membayar biaya-biaya yang biasanya dibebankan kepada penghuni apartemen atau rusun untuk digunakan dalam mendanai pemeliharaan dan perbaikan struktur eksternal. Alias, gak pusing memikirkan urusan renovasi bangunan seperti layaknya tinggal di rumah tapak.

Fitur Komunitas

Fitur Komunitas - Beli Rumah atau Apartemen di Usia 30-an? Ini Pertimbangannya...
FOTO: mirror.co.uk

Salah satu keuntungan tinggal di sebuah hunian vertikal dibandingkan rumah tradisional adalah bahwa biasanya apartemen atau kondominium memiliki fitur komunitas.

Lapangan tenis, kolam renang, atau fasilitas berbasis masyarakat lainnya menjadi lebih mudah digunakan dan dipelihara di sebuah kondominium.

Dengan adanya fitur ini, Urbaners yang berusia 30-an juga mendapatkan kesempatan untuk memperluas jaringan pertemanan saat sedang berolahraga bersama atau kegiatan lainnya ketika sedang menggunakan fasilitas tersebut.

(Baca juga: 5 Jenis Olahraga untuk Bantu Turunkan Risiko Penyakit Jantung di Usia Muda)

Dalam kasus rumah tradisional, fitur tersebut juga ada, namun biayanya akan sangat mahal mengingat kita akan dikenakan biaya sewa di clubhouse setempat.

Ini 5 Alasan Kenapa iPhone 7 Pantas Dibanderol Mahal

Ini 5 Alasan Kenapa iPhone 7 Pantas Dibanderol Mahal

Apple sudah secara resmi memperkenalkan dua lini smartphone andalannya, iPhone 7 dan iPhone 7 Plus.

Dari atas panggung peluncuran di Bill Graham Civic Auditorium, San Francisco, AS, SVP Marketing Apple Phil Schiller menjabarkan sejumlah keunggulan duet tersebut. Peningkatan tersebut bisa ditilik dari segi desain, performa, kamera, dan ketahanan fisik.

Beberapa highlight sebenarnya sudah terungkap melalui berbagai bocoran. Misalnya saja fitur anti-air dan anti-debu bersertifikasi IP67. Selain itu, kamera lensa ganda pada varian Plus untuk menangkap warna gambar yang lebih kaya dan tajam. Untuk itu semua, Apple mematok harga yang lumayan mahal.

iPhone 7 yang memiliki layar 4,7 inci dibanderol mulai 649 dollar AS atau setara Rp 8,5 juta. Sementara varian iPhone 7 Plus dengan layar 5,5 inci dipatok mulai 769 dollar AS atau senilai Rp 10 jutaan.

Berikut lima alasan kenapa harga iPhone 7 dan iPhone 7 Plus pantas dibanderol mahal, seperti dirangkum UrbanLife.id dari berbagai sumber.

Desain yang Tahan Air dan Mengilap pada Semua iPhone 7

Sebenarnya tak ada yang terlalu baru dari desain iPhone 7. Hanya saja Apple menambahkan sertifikasi IP67 pada produk buatannya ini.

Nah, berkat sertifikasi ini iPhone 7 diklaim sudah tahan air dan debu. Meski tidak disarankan sih kalau kamu mau membawanya saat berenang atau olahraga air lainnya.

(Baca juga: 5 Jenis Olahraga untuk Bantu Turunkan Risiko Penyakit Jantung di Usia Muda)

Selain itu, body iPhone 7 juga diklaim lebih mengilap dan super licin dari iPhone seri sebelumnya. Apple berujar jika body super kilap yang diusung iPhone 7 itu berkat campur tangan robot yang diberi tugas untuk menghaluskan case-nya dengan pasir.

Kualitas Layar yang Makin Tajam

Untuk urusan layar, Apple mengklaim telah membekali iPhone 7 ini dengan dukungan fitur baru yakni “wide color gamut”.

Nah, berkat fitur tersebut maka warna layar dari seri iPhone 7 dan iPhone 7 Plus diklaim bakal lebih menonjol tapi tetap nampak natural. Fitur baru ini juga diklaim membuat layar 25 peren lebih terang ketimbang iPhone 6S.

TouchID pada iPhone 7 yang Lebih Cerdas Dibandingkan Generasi Sebelumnya

Apple mengklaim jika fitur TouchID di iPhone 7 dan iPhone 7 Plus bakal jauh lebih cerdas ketimbang iPhone 6S. Apple menambahkan jika TouchID pada iPhone 7 ini ditambahi teknologi Taptic Engine seperti pada trackpad MacBook.

Jadi, saat kamu menekan tombol “rumah” atau Home maka seolah-olah kamu akan merasakan sensasi ‘klik’ meski sebenarnya tidak.

(Baca juga: Ini Cara Seru Habiskan “Long Weekend” di Rumah)

Apple juga mengungkapkan jika teknologi Taptic Engine dapat memunculkan sensasi bergetar tertentu. Menarik kan?

Audio Super Gahar

Sebagai ganti hilangnya audio jack 3,5 mm, Apple membekali iPhone 7 dengan dual stereo speaker yang diklaim mampu menghasilkan audio dual kali lipat lebih gahar ketimbang iPhone 6.

Selain itu, Apple juga membekali iPhone 7 ini dengan paket bundling earphone lightning dan adaptor untuk audio jack buat mereka yang masih belum rela kehilangan jack audio 3,5 mm.

Sebagai tambahan, Apple juga meluncurkan Airpods sebagai earphone bluetooth utama iPhone 7 yang diklaim mempunyai sensor khusus yang hanya bisa berfungsi saat kamu memakainya di telinga. Sayangnya, Airpods ini dijual secara terpisah dengan harga yang cukup fantastis, yakni sekitar 2 jutaan.

Kamera iPhone 7 yang Ciamik dan Gak Kalah dari DSLR

Kamera nampaknya jadi salah satu fitur yang paling diunggulkan iPhone 7. Mulai dari peningkatan resolusi sampai penambahan fitur dukungan fotografi semua hadir di iPhone 7 demi memenuhi kebutuhan hari-hari hingga dokumentasimu ketika traveling.

(Baca juga: 5 Tips Traveling Hemat ala UrbanLife.id)

Ya, iPhone 7 dilaporkan sudah mengusung fitur optical image stabilisation dan exposure 3 kali lebih panjang. Selain itu, 6 elemen lensa dengan bukaan f/1.8 dan sensor 12 MP yang diklaim 60 persen lebih cepat ketimbang iPhone 6.

Untuk kamera di bagian depan, Apple membekali iPhone 7 dengan resolusi sebesar 7 MP. Jauh lebih baik ketimbang resolusi pada iPhone 6 yang hanya mengusung resolusi 5 MP saja.

Nah, khusus untuk iPhone 7 Plus Apple menghadirkan dual lensa kamera yakni lensa model wide angle dan satu lagi lensa model telephoto. Hasilnya, dual kamera yang diusung iPhone 7 ini mampu menghasilkan efek bokeh khas DSLR dan optical zoom 2x plus digital zoom 10x.